Beranda / Tak Berkategori / Polisi Ungkap Penyebab Kematian Siswa SMP Di Tangsel

Polisi Ungkap Penyebab Kematian Siswa SMP Di Tangsel

Polres Tangerang Selatan telah mengungkap fakta baru terkait meninggalnya siswa SMPN 19 Tangerang Selatan berinisial MH (13) yang sebelumnya ramai di beritakan sebagai korban perundungan (bullying) di lingkungan sekolahnya. Kasus ini menarik perhatian publik nasional karena berhubungan dengan isu kekerasan di sekolah dan keselamatan peserta didik. Meski demikian, penyelidikan dugaan bullying tetap di lakukan oleh polisi dengan memeriksa sejumlah saksi.

Kronologi Kejadian

MH, siswa kelas VII SMPN 19 Ciater, mulai mendapatkan perhatian media setelah ia di rawat secara intensif di RS Fatmawati, Jakarta Selatan, akibat kondisi kesehatannya yang memburuk. Sebelumnya, muncul laporan bahwa ia mengalami perundungan di sekolah, termasuk benturan fisik dari teman sekelas yang menyebabkan luka kepala serius. Akibat kondisi kritis tersebut, MH meninggal dunia pada Minggu pagi setelah lebih dari seminggu menjalani perawatan.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) meminta pihak berwenang, termasuk kepolisian dan sekolah, untuk melakukan penyelidikan menyeluruh serta memastikan hak-hak korban terpenuhi, termasuk memberikan penjelasan transparan penyebab kematian korban.

Pengungkapan Polisi: Sebab Kematian MH

Setelah di lakukan serangkaian pemeriksaan saksi, termasuk pemeriksaan terhadap dokter spesialis dan ahli forensik. Polisi ungkap kematian MH tidak murni karena perundungan, melainkan akibat penyakit serius yang di deritanya: tumor otak pada batang otak.

Kapolres Metro Tangerang Selatan, AKBP Victor Daniel Henry Inkiriwang, menyatakan hasil investigasi menunjukkan tumor otak yang di alami korban mengakibatkan gangguan pada saraf mata serta komplikasi kesehatan lainnya yang menjadi penyebab utama kematian MH.

Serangkaian pemeriksaan medis mencakup MRI yang menemukan tumor di bagian belakang otak korban. Selain itu, polisi telah memintai keterangan dokter spesialis anak, dokter spesialis neurologi, dokter spesialis mata. Dokter umum, dan dokter forensik untuk memastikan kondisi medis yang di alami korban sebelum meninggal.

Proses Hukum dan Pemeriksaan Saksi

Sebelum hasil pemeriksaan medis di pastikan, polisi telah melakukan penyelidikan awal terkait dugaan bullying yang di alami MH. Enam saksi telah di periksa, termasuk pihak sekolah. Keluarga, dan lingkungan sekitar untuk mengetahui apakah ada unsur kekerasan fisik yang berkontribusi langsung terhadap kondisi kesehatan MH.

KPAI dan pihak keluarga pada awal kasus mendesak adanya proses hukum serta transparansi dalam penyelidikan, terutama terkait dugaan kekerasan yang di alami korban di sekolah. Permintaan ini muncul karena adanya laporan bahwa korban sempat di pukul benda keras oleh teman sekelasnya pada bulan Oktober 2025.

Meskipun begitu, hasil medis yang di paparkan polisi menunjukkan bahwa penyakit tumor otak berperan dominan dalam menimbulkan kondisi kritis yang kemudian berujung pada kematian MH.

Reaksi Publik dan Dukungan Lembaga

Kasus ini memicu reaksi dari berbagai pihak:

  • KPAI tetap mendesak agar proses hukum terkait kasus perundungan di sekolah di tindaklanjuti secara transparan sekaligus memastikan hak korban tetap dilindungi dalam sistem peradilan anak.

  • Keluarga korban pada awalnya berharap klarifikasi tentang dugaan kekerasan yang menimpa MH serta langkah hukum terhadap pelaku jika memang terbukti melakukan tindak kekerasan.

  • Pihak sekolah dan organisasi masyarakat turut menyerukan perlu adanya budaya sekolah yang aman, bebas kekerasan, serta mekanisme pencegahan bullying yang efektif agar tragedi serupa tidak terulang.

Kesimpulan

Kasus meninggalnya siswa SMPN 19 Tangerang Selatan yang sempat di anggap sebagai akibat perundungan ternyata memiliki akar penyebab medis yang mendalam: tumor otak yang di derita MH menjadi penyebab utama kematian setelah hasil pemeriksaan medis dari tim dokter dan forensik.

Walau demikian, proses hukum terkait dugaan perundungan tetap berjalan. Dengan di lakukannya pemeriksaan saksi dan pendalaman fakta di lapangan oleh pihak kepolisian. Kasus ini menggarisbawahi pentingnya penanganan bullying di sekolah dengan serius, sekaligus kebutuhan untuk menjelaskan fakta-fakta medis dengan transparan agar tidak terjadi kesimpangsiuran informasi di masyarakat.

FAQ – Pertanyaan yang Sering Di ajukan

1. Apakah MH meninggal karena bullying?
Berdasarkan hasil pemeriksaan tim medis dan forensik yang dikutip polisi, penyebab kematian MH adalah penyakit tumor otak, bukan secara langsung karena tindakan perundungan.

2. Apakah polisi menghentikan penyelidikan kasus bullying?
Tidak. Polisi tetap melakukan penyelidikan terkait dugaan perundungan yang dialami korban, termasuk pemeriksaan saksi, tetapi dugaan bahwa bullying adalah penyebab utama kematian kini dipertanyakan setelah hasil medis.

3. Bagaimana peran KPAI dalam kasus ini?
KPAI meminta agar kepolisian mengusut tuntas kasus ini sesuai hukum peradilan anak serta memastikan hak-hak korban dan keluarganya terlindungi. Mereka juga menekankan pentingnya pencegahan bullying di sekolah.

4. Apa pelajaran yang bisa di ambil dari kasus ini?
Kasus ini menekankan pentingnya pemahaman yang akurat terhadap penyebab kematian korban, perlunya mekanisme penanganan kasus bullying yang efektif di sekolah, serta kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan aparat penegak hukum untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan sehat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *